Selasa, 07 November 2017

Rawan Kisruh Saat Pilkades, Dua Desa Ini Dijaga Brimob
ILUSTRASI

BANYUWANGI – Polres Banyuwangi akan mendapatkan bantuan satuan setingkat kompi (SSK) Brimob Kompi 38. Pasukan itu dikirim langsung dari Polda Jawa Timur untuk mengamankan pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades) yang akan digelar serentak Rabu besok (8/11).

Kapolres Banyuwangi AKBP Agus Yulianto melalui Kasubag Humas AKP Bakin mengatakan, pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara Pilkades serentak akan mendapat pengamanan ekstra. Terutama bagi dua desa yang dinilai rawan terjadinya kekisruhan.

Dua desa yang dinilai rawan terjadi kekisruhan saat Pilkades berlangsung yakni Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore dan Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. “Khusus dua desa ini akan kami siagakan pasukan Brimob, dibantu pasukan Pengendalian Masa (Dalmas) Polres Banyuwangi,” tegasnya.

Secara keseluruhan, pihaknya menerjunkan pasukan sebanyak 475 personel di tempat pemungutan suara (TPS),  115 pasukan stand by di Polsek,  70 personel dalmas Polres, 30 personel Dalmas kerangka, dan 23 pesonel Dalmas polwan. “Total keseluruhan kekuatan pengamanan selama Pilkades dari Polres Banyuwangi saja sejumlah 713 anggota,” jelasnya.

Selain diperkuat pasukan Brimob kompi 38 dari Polda Jawa Timur, Polres Banyuwangi juga akan mendapatkan bala bantuan dari Dalmas Polri jajaran. “Jadi Polres jajaran, seperti Polres Jember,
Situbondi dan Bondowoso juga akan ikut memberikan BKO personel ke Banyuwangi,” terang Bakin.
Pasukan tersebut rencananya akan disiagakan sejak H-1 hingga H+1 pelaksanaan Pilkades atau mulai 7 sampai 9 November 2017. “Dari 51 yang akan menyelenggarakan Pilkades, sementara dari hasil pemantauan baru dua desa yang kami nilai rawan. Karena sebelum Pilkades sudah terjadi aksi protes cukup memanas dari salah satu pasangan calon kepala desa,” bebernya.

Dia berharap, agar warga yang desanya menyelengarakan Pilkades dapat ikut bersama-sama jaga situasi kemanan dan ketertiban masyarakat. Sehingga, hasil Pilkades bisa memberikan manfaat yang terbaik untuk masyarakat dan Ban yuwangi.  (radar)

Ribuan Netizen Teken Petisi “Save Kawah Ijen”
Ribuan Netizen Teken Petisi Save Kawah Ijen, Stop Pembangunan di Puncak

BANYUWANGI – Pembangunan infrastruktur publik di puncak Ijen mendapatkan tanggapan pedas dari pencinta lingkungan, fotografer, dan wisatawan. Keresahan tersebut diungkapkan lewat petisi yang berisi penolakan pembangunan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen yang akan ditunjukan Presiden Joko Widodo.

Komunitas Sea Soldier Banyuwangi membuat petisi di media sosial. Mereka mengajak masyarakat menandatangani petisi penolakan pembangunan di puncak Ijen. Hingga kemarin (6/11), tercatat 13.441 orang yang tanda tangan mendukung penolakan pembangunan infrastruktur publik di puncak Ijen.

Petisi “Save Kawah Ijen, Stop Pembangunan di Puncak” itu muncul karena adanya keresaban akibat pembangunan infrastruktur di puncak Ijen. Sarana tersebut berupa toilet, pagar pembatas, dan pendapa gardu pandang.

“Menurut kami, pembangunan tersebut dapat merusak ekosistem di kawasan TWA Ijen,” ujar Putri Agustin, koordinator Sea Soldier Banyuwangi. Putri berharap pembangunan infrastruktur di puncak Ijen dapat dihentikan karena dapat merusak kelangsungan ekosistem. Yang paling ditakutkan adalah terjadinya longsor lantaran gunung Ijen masih aktif.

Pembangunan infrastruktur di ljen menuai banyak kritik. Pegiat lingkungan menilai bangunan tersebut bisa mengurangi keaslian wajah Ijen. Mereka beramai-ramai menggalang penolakan proyek milik Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur tersebut.

Meski menuai kecaman, pembangunan infrastruktur di puncak Ijen tems berlanjut. BKSDA bergeming dengan kritikan dan kecaman pegiat lingkungan.

“Proyek tersebut tidak melanggar ketentuan apa pun. Proyek itu akan menjadikan Ijen jauh lebih bagus dengan semua fasilitas yang di bangun,” tegas Chomsatun Rochmaningrum, atas nama Kuasa Pengguna Anggaran Pejabat Pembuat Komitmen proyek infrastruktur yang ditangani BKSDA Jatim tersebut.

Meski ditentang banyak orang, proyek pembangunan Ijen terus dilaksanakan. (radar)
Orang Gila Ngamuk Bawa Senjata Tajam
Petugas saat mengamankan MY, orang gila yang mengamuk dengan membawa sajam.
 
BANYUWANGI – Karena meresahkan, orang gila yang mengamuk dengan membawa senjata tajam di Dusun Maron, tepatnya di depan Perumahan BMI, Genteng Kulon, Genteng, akhirnya diamankan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dibantu dengan kepolisian Sektor Genteng, Senin (6/11/2017).

Berawal dari laporan salah satu warga, yang menyaksikan langsung seorang pemuda yang mengamuk, akhirnya orang gila itu dapat segera diamankan sebelum melukai orang di sekitarnya.
Dijelaskan Kasi Tramtib Kecamatan Genteng, Sulemi, Orang gila yang diketahui bernama MY, (35) warga Dusun Nganjukan Desa Karangsari Kecamatan Sempu itu diamankan petugas nyaris tanpa perlawanan.

“Tidak ada perlawanan yang berarti, selanjutnya arang tersebut di bawa ke Kantor Kecamatan Genteng dan kita serahkan ke pihak keluarga melalui pihak desa,” ungkapnya. Sumber : kabarbanyuwangi.info

Kamis, 02 November 2017

Operasi Zebra Dimulai, Baca Ini Jika Tak Ingin Ditilang
Tak Ada Toleransi Bagi Pelanggar Lalu Lintas
Ilustrasi
BANYUWANGI – Polisi Lalu Lintas (Polantas) se-lndonesia hari ini serentak menggelar operasi lalu lintas bersandi Zebra. Operasi ini akan digelar selama dua pekan, mulai hari ini hinggga Selasa mendatang (14/11).
Selama Operasi Zebra 2017 berlangsung, polisi akan menindak tegas para pelanggar lalu lintas yang berpotensi menimbulkan terjadinya kecelakaan di jalan raya. Tidak ada toleransi bagi masyarakat yang kedapatan melanggar aturan lalu lintas.
Kasatlantas Polres Banyuwangi AKP Ris Andriyan Yudho Nugroho mengatakan, selama Operasi Zebra berlangsung, semua jenis pelanggaran lalu lintas akan dilakukan penindakan.
“Jadi semua jenis pelanggaran yang berpotensi menimbulkan terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan raya langsung kami tindak tegas. Sasaran operasi mulai dari pengemudi mobil pribadi, motor, hingga angkutan umum,” ungkapnya.
Sasaran Operasi Zebra 2017
Beberapa jenis pelanggaran tersebut antara lain, tidak membawa Surat Izin Mengemudi (SIM), tidak membawa Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), hingga mengendarai motor yang tidak sesuai standar pabrikan.
Kategori kendaraan tidak standar adalah tidak memasang spion, velg, ban kecil, knalpot brong, tidak mengenakan helm Standar Nasional Indonesia (SNI), menerobos lampu merah, melanggar markah jalan, serta berbagai jenis pelanggaran lalu lintas lainnya.
”Tidak menyalakan lampu utama disiang hari, berhenti dan parkir di rambu terlarang juga akan kami tindak tegas,” imbuh Ris Andriyan.
Dalam Operasi zebra selama dua pekan nanti, pihaknya lebih banyak mengedepankan pola represif atau penindakan tilang terhadap para pelanggan. Tidak hanya pengendara motor, Para pengendara mobil dan Mobil Angkutan Umum (MPU) juga akan diberlakukan sama.
”Mereka, yang melakukan pelanggaran dijalan raya juga tidak luput dari sasaran tindakan kepolisian selama Operasi Zebra berlangsung,” kata Kasatlantas.
Dijelaskan, Operasi Zebra bertujuan untuk membangkitkan kedisiplinan masyarakat dalam berlalu lintas dijalan raya. Selain itu, untuk menurunkan angka kecelakaan di jalan raya. “Terjadinya kecelakaan di jalan raya bermula dari pelanggaran lalu lintas. Semoga masyarakat lebih disiplin, taat, patuh dalam berlalu lintas,” harapnya.
“Saat ditanya di jalan raya mana saja yang menjadi titik sasaran Operasi Zebra, mantan Kasatlantas Situbondo itu mengatakan, pelaksanaan operasi akan digelar secara acak dengan titik yang berubah-ubah.
“Pokoknya kami mengimbau kepada masyarakat agar lebih tertib dalam berlalu lintas dan mematuhi peraturan yang berlaku. Itu saja,” imbaunya. (radar)
Muncul Kepulan Asap, Karyawan Vionata Semburat
Toko Vionata di Jalan A. Yani 1 Nomor 37 Banyuwangi
BANYUWANGI – Kepanikan melanda karyawan Vionata, tadi malam. Seluruh karyawan toko yang beralamat di Jalan A. Yani 1 Nomor 37 Banyuwangi itu semburat dari tempatnya bekerja.
Itu terjadi setelah salah satu sudut ruangan Vionata muncul percikan api. Beruntung, api tidak sampai membakar seluruh barang-barang milik Vionata. Api dengan cepat dipadamkan oleh karyawan dengan alat seadanya.
Meski begitu, kebakaran kecil tadi malam sempat merepotkan karyawan. Mereka memilih keluar dari toko dan berdiri di dekat jalan raya. Bahkan, untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran lebih besar, dua unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan.
“Kebakarannya kecil. Hanya kepulan asap yang terlihat,” ujar Otong. Seorang warga yang dialam itu berbelanja di Vionata.
Hingga berita ini ditulis, petugas PMK masih siaga. Aparat kepolisian juga berjaga di depan Vionata. Arus lalu lintas sempat terganggu karena banyak warga yang menyaksikan kebakaran dari depan Vionata.
“Kami masih menyelidiki penyebab percikan api. Yang pasti hanya kebakaran kecil,” kata Kapolsek Banyuwangi AKP Ali Masduki. (radar)

Rabu, 01 November 2017

Gorong – gorong Jebol, Jalan rusak, Gapura roboh Dampak Dari Pembangunan Pasar Benculuk

CLURING – Pembangunan pasar Benculuk sejak awal pendirian selalu saja ada permasalahan, Konflik dengan warga diantaranya tempat pengolahan sampah yang lokasinya di depan musolah lalu papan nama proyek yang tidak dipasang dan sekarang jalan rusak dan gapura ambrol akibat alat berat dan truk trailer yang keluar masuk bawa bahan bangunan. Rabo (01/11/2017).

Pasar Benculuk berlokasi di Dusun Purwosari Desa Benculuk Kecamatan Cluring.Banyuwangi selatan.Pasar tersebut rencananya akan dipugar area depan untuk RTH (ruang taman hijau) dan pertokoan, paling belakang digunakan pasar rakyat yang sekarang tahap pembangunan.
Saat ini warga keluhkan Proyek pembangunan pasar yang diduga nilainya milyaran rupiah, karena berdampak pada jalan Desa sepanjang 200 meter. Ada tiga titik keruasakan yang parah, Hingga mengakibatkan gorong-gorong jembatan jebol.
“Saya sesalkan pemerintah setempat yang hanya diam saja, entah melihat maupun tidak melihat pekerjaan pembangunan pasar Benculuk yang kurang transparan dan kurang bertanggung jawab,” jelas warga Sis.
” Sekarang kita lihat saja jalan yang rusak, gorong – gorong jebol, gapura roboh ini siapa yang bertanggung jawab, Sampai saat ini pimpinan CV hampir tidak bisa ditemui atau diajak bicara,” Tambahnya.
Pembangunan pasar Benculuk saat ini sudah hampir 70% namun papan nama proyek belum juga dipasang, Proyek tersebut menabrak aturan tentang Undang – undang keterbukaan publik.
Sementara kepala Desa Benculuk Sutrisno mengeluhkan rusaknya fasilitas jalan,” Kalau fasilitas jalan ini rusak masyarakat dirugikan, paling tidak pihak kontraktor mau membenahi, jangan terus berpaling seperti ini,” terang kepala Desa yang baru menjabat jadi PLT. (Rony). Sumber Jurnalnews.com
Pakai Udeng Khas Oseng, Shaheer Sheikh Merasa Tambah Ganteng

BANYUWANGI – Bintang serial India Shaheer Sheikh, Vishal Singh, dan Ankit Bathia, menyapa fans di Banyuwangi, kemarin. Selama jumpa fans di Bumi Blambangan, mereka ditemani artis KDI seperti EVi Masamba, Alice, Sapri, dan artis pendukung lainnya.

Jumpa fans diawali dengan penampilan artis lokal Reni Farida dan jug Wandra di atas panggung Stadion Diponegeoro sebelah barat. Selanjutnya MC Indra Bekti dan Sapri langsung menggebrak panggung dengan joke-joke segarnya.

Setelah itu Shaheer Sheikh tampil menggabrak. Jejer tari paju gandrung turut mengiringi penampilan Shaheer. Sebuah udeng khas Oseng yang dihadiahi oleh salah seorang fans menghiasi kepala sang bintang India tersebut.
 
“Saya merasa tambah ganteng memakai udeng ini,” ujar Shaheer.
Karena jadwal yang terlalu padat terpalsa Shaheer meninggalkan panggung lebih awal untuk kembali kembali ke Jakarta. Kemudian giliran Evi Masamba yang bernyanyi dan membuat seluruh penonton bergoyang dengan lagu yang di bawakannya.


Selanjutnya Indra Bekti memanggil kedua artis tampan yang selalu menghiasi serial India tersebut. Teriakan penonton yang histeris membuat suasana semakin meriah. Vishal Singh dan Ankit Bathia mulai bergoyang mengikuti irama musik india.

“Banyuwangi memang luar biasa,” ucap Ankit saat di atas panggung.
Vishal Singh mengaku baru kali ini datang ke Banyuwangi. Dia merasa Banyuwangi mirip dengan Bali. Saat naik pesawat menuju Bandara Banyuwangi, dirinya sangat terpukau dengan keindahan laut dan area persawahan yang luas.

“Saya ingin berkeliling wisata di Banyuwangi. Tapi nanti jika ada waktu,” tandas Vishal. (radar)

Tenang! Batas Akhir Registrasi Ulang Kartu Prabayar 28 Februari 2018

BANYUWANGI – Beredarnya berita tentang hari terakhir registrasi kartu prabayar (sim card) untuk semua operator membuat masyarakat resah. lnformasi tersebut telanjur beredar di media sosial maupun berita onlline.

Beberapa pengguna kartu prabayar pun banyak yang datang ke Grapari Telkomsel Banyuwangi. Mereka datang untuk memastikan kebenaran berita tersebut. Pengguna tidak ingin sim Card yang mereka gunakan terblokir.

“Saya sudah mendengar berita tersebut satu minggu yang lalu. Ternyata berita itu tidak benar,” ucap Irawan, 35, warga Glagah.

Registrasi sim card yang diwajibkan calon pengguna dan pengguna sim card lama. Mengacu pada peraturan Menkominfo Nomor 12/2016 beserta perubahannya. Dan registrasi tersebut dimulai pada 31 Oktober 2017 hingga 28 Februari 2018.

“Takut jika nomor yang saya pakai sejak lama tidak dapat digunakan lagi,” ungkap Laili, 27, warga Banyuwangi.

Registrasi sim card dapat di lakukan via ponsel masing-masing pengguna. Registrasi tersebut berlaku untuk semua operator kartu prabayar yang ada di Indonesia.

Eka Prasetyo, 30, Team Leader telkomsel Banyuwangi mengatakam, berita tersebut sudah beredar luas di masyarakat. Sudah satu pekan ini banyak pelangggan Telkomsel yang komplain akan berita tersebut.

“Jadi para pengguna harus registrasi ulang mulai 30 Oktober 2017. Jika tidak melakukan registrasi tersebut, maka pengguna kartu prabayar tidak bisa melakukan panggilan keluar,” ujar Eka.

Manfaat registrasi ulang, yaitu untuk melindungi konsumen dari penyalahgunaan data dan hal-hal yang merugikan. Serta memudahkan penyediaan layanan bagi pengguna ponsel, misalnya untuk transaksi online dan lainnya.

“Registrasi kartu prabayar harus menggunakan identitas asli. Dan pastikan nomur induk KTP yang dicantumkan untuk meregistrasi ulang,” tandas Eka. (radar)
Polisi Tes Kejiwaan Efendi yang Tega Aniaya Alesha Keisha Ardani Hingga Tewas

BANYUWANGI – Penyidik Satreskrim Polres Banyuwangi melakukan tes kejiwaan terhadap Efendi. Tersangka penganiayaan terhadap balita Alesha Keisha Ardani itu dibawa ke RSUD Blambangan, Senin pagi (30/10).

Kasat Reskrim Polres Banyuwangi AKP Sodik Efendi mengatakan, pemeriksaan tes kejiwaan terhadap Effendi semata untuk mengetahui kondisi kejiwaan tersangka apakah masih normal atau gila.

Selain itu, polisi juga masih terus menyelidiki motif tersangka yang tega menganiaya balita tersebut. Apalagi sampai korban meninggal dunia. “Dari hasil pemeriksaan penyidik, tersangka berdalih kelelahan setelah semalam ngojek. Sehingga begitu mendengar rengekan anak kecil langsung emosi dan kalap,” jelasnya.

Lantas bagaimana hasil pemeriksaan kejiwaan tersangka? Hingga Senin sore, hasil pemeriksaan dati RSUD Blambangan tersebut masih belum diketahui secara pasti. Sumber di RSUD Blambangan menyebutkan jika tersangka pernah memiliki riwayat kejiwaan alias stres.

Polisi juga masih mendalami motif lainnya antara tersangka dan ibu korban. Karena, ibu korban sering menggunakan jasa tersangka menggunakan motor (ngojek). “Kita tidak mau berandai-andai. Kami masih dalami motif pembunuhan ini. Sementara ini, masih karena kelelahan atau kecapaian setelah semalaman bekerja,” tandas Sodik.

Diberitakan sebelumnya, balita berumur 22 bulan meninggal cukup tragis akibat tindak kekerasan oleh tukang ojek. Sebelum meninggal, balita cantik itu dijantur dan dibanting ke tempat tidur. Alasannya sepele, pelaku nekat seperti itu karena si balita terus menangis saat dititipkan ibunya.

Kisah tragis itu dialami Alesha Keisha Ardani, warga lingkungan Stendo, Kelurahan Tukangkayu, Kecamatan Banyuwangi. Bayi tersebut anak pasangan suami istri Wiyono dan Rina Munarsih.

Penganiayaan yang menimpa balita yang akrab dipanggil Keisha itu terjadi Sabtu pagi (28/10). Pelakunya adalah Efendi, warga lingkungan Pakis Duren, Kelurahan Sumberejo, Kecamatan Banyuwangi.

Ceritanya, pagi itu pukul 08.20, Rina Munarsih menitipkan anaknya ke rumah Efendi yang tak lain adalah tukang ojek langganannya. Saat itu, Rina berpamitan akan menemui temannya tak jauh dari tempat itu. Berselang 25 menit usai menemui temannya itulah, Rina kembali ke rumah pelaku. Dia mendapati anaknya sudah dalam gendongan pelaku dengan kondisi luka lebam.

Saat itu, Keisha sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Pada wajah korban juga terdapat luka lebam. Mendapati kondisi itu, Rina langsung membmva putrinya ke RSI Fatimah untuk mendapatkan perawatan. Korban langsung dirawat di ruang ICU. Kepada ibu korban, pelaku berdalih jika korban terjatuh di kamar mandi.

Usai mendapat perawatan intensif, Sabtu sore korban dibawa pulang oleh keluarganya. Sekitar pukul 18.20, korban mengembuskan napas terakhir. Tak terima dengan kejadian ini, keluarga korban langsung melaporkan ke polisi. (radar)

Selasa, 31 Oktober 2017

Duka Ayah yang Anaknya Tewas di Tangan Tukang Ojek Langganan Sang Ibu

BANYUWANGI – Wiyono, sangat terpukul lantaran putrinya, Alesha Keisha Ardani yang masih berusia 22 bulan tewas di tangan tukang ojek langganan sang istri. Dia tidak habis pikir kenapa anaknya bisa bersama pelaku.
Wiyono mengaku sama sekali tidak mengenal Efendi. Dia juga tidak tahu kalau pelaku adalah langganan ojek istrinya.
Tak hanya itu, selama ini dirinya tidak pernah menitipkan anaknya kepada siapapun. Pria yang bekerja sebagai buruh bangunan ini menyebut, saat berangkat kerja dan pulang kerja anaknya selalu berada di rumah.
“Setahu saya, Keisha diasuh sendiri sama ibunya, tidak pernah dititipkan. Waktu jam 9 pagi saya dapat kabar anak saya di rumah sakit, langsung saya ke RS Fatimah,” kata Wiyono.
Saat mengetahui pelaku, Efendi, berada di RS Fatimah, kata Wiyono, sontak dia kaget dan hendak mengamuk terhadap pelaku. Namun, pihak keluarga Wiyono ada yang melerai dan berusaha menenangkannya.
“Saya sempat emosi tapi keluarga saya menenangkan,” katanya.
Wiyono mengaku susah untuk melupakan wajah sang anak sebelum berangkat bekerja. Wiyono yang mengaku tak enak itu sempat melihat sang anak menatapnya dengan sayu.
“Ya kayak mau bilang jangan ditinggal gitu. Feeling saya sudah tidak enak saat mau pergi itu. Makanya ketika bekerja terus ada yang mau saya beli saya sempatkan mampir. Tidak tahunya sudah di rumah sakit,” ujar Wiyono.
Terakhir, kata Wiyono, dirinya melihat wajah sang anak saat sudah menjadi jenazah. Wajah Alesha, kata Wiyono sudah lebam di dahi dan telinga. “Itu yang saya ingat. Mulai berangkat kerja hingga meninggal wajahnya saya ingat,” tambahnya.
Dirinya berharap pelaku bisa dihukum seberat-beratnya, karena telah tega menghabisi anaknya yang tak berdaya. “Saya serahkan semuanya kepada aparat kepolisian. Saya minta pelaku dihukum berat,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang bocah berumur 22 bulan di Banyuwangi meninggal dunia di tangan Effendi (45), seorang tukang ojek. Warga Kelurahan Pakis, nekat membunuh bocah itu, lantaran terus menangis setelah dititipkan ibunya.
Alesha Keisha Ardani, anak pertama dari pasangan suami istri Wiyono dan Rina Munarsih, warga Lingkungan Stendo, Kelurahan Tukangkayu, Banyuwangi, meregang nyawa setelah kepalanya dibentur-benturkan ke kasur. Tak hanya itu, korban juga dibanting hingga tak sadarkan diri dan mengalami lebam di wajah. Sumber : Kabarbanyuwangi.info