Mengurangi Susut Hasil Perikanan, Menjaga Nilai Ekonomi dari Hulu ke Hilir
- by Admin
- 28 Oktober 2026
BanyuwangiNews.com - Nilai ekonomi hasil perikanan tidak hanya ditentukan oleh harga jual, tetapi juga oleh seberapa banyak produk yang tetap layak dipasarkan setelah melewati proses penanganan, penyimpanan, pengolahan, dan distribusi. Susut mutu atau kerusakan produk dapat mengurangi pendapatan pelaku usaha bahkan sebelum transaksi selesai dilakukan.
Dalam rantai usaha perikanan, kerugian dapat muncul akibat penanganan yang terlambat, penyimpanan yang tidak sesuai, kemasan yang kurang memadai, hingga distribusi yang memerlukan waktu lebih lama daripada perkiraan. Pada produk olahan, kegagalan menjaga proses produksi dan penyimpanan juga berpotensi menimbulkan produk yang tidak memenuhi standar.
Saat menjawab pertanyaan awak media mengenai upaya menjaga nilai ekonomi hasil perikanan, Sekdin Perikanan dan kelautan Kabupaten Banyuwangi, Riza Al Fahroby, S.T., M.Sc. menjelaskan bahwa penanganan dan pengolahan yang tepat merupakan bagian penting dalam mempertahankan kualitas produk sebelum dipasarkan.
Langkah perbaikan perlu diawali dengan mengenali titik kerugian. Pelaku usaha perlu mencatat jumlah bahan baku yang masuk, hasil produk yang diperoleh, barang yang rusak, biaya penanganan, dan nilai penjualan. Data tersebut membantu menentukan apakah persoalan utama berada pada mutu bahan baku, teknik pengolahan, penyimpanan, atau distribusi.
Pengurangan susut hasil tidak selalu membutuhkan investasi besar. Dalam sejumlah proses, perbaikan prosedur kerja, kebersihan peralatan, penataan ruang penyimpanan, pengendalian suhu, dan pengaturan jadwal distribusi dapat menjadi langkah awal. Namun, kebutuhan teknis harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing produk.
Bagi pemerintah daerah, pemetaan titik kerugian dapat membantu menentukan bentuk pendampingan yang lebih tepat. Fasilitas baru sebaiknya direncanakan setelah kebutuhan, biaya operasional, dan manfaat ekonominya dianalisis.
Ke depan, evaluasi pengurangan susut dapat menjadi salah satu indikator program pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Penilaiannya perlu menggunakan data sebelum dan sesudah perbaikan, bukan hanya berdasarkan jumlah peralatan yang disalurkan atau pelatihan yang diselenggarakan.
Jika jumlah produk rusak dapat ditekan tanpa menambah biaya secara berlebihan, pelaku usaha berpeluang memperoleh hasil penjualan yang lebih baik dari bahan baku yang sama.
Dengan demikian, menjaga nilai ekonomi perikanan bukan semata-mata persoalan meningkatkan produksi. Efisiensi penanganan dari hulu hingga hilir juga menentukan seberapa besar manfaat yang akhirnya diterima oleh nelayan, pengolah, dan pelaku pemasaran.
